-
pada bulan Februari 1984, kata Pemimpin Perusahaan majalah
Griya Asri, Ade A. Iskandarsjah Latief, sebenarnya merupakan
jawaban atas kelangkaan informasi mengenai dunia arsitektur,
interior, taman dan lingkungan hidup. "Kami menyadari
bahwa ada komunitas yang haus akan informasi tentang dunia
arsitektur dalam segala aspeknya," ujar Ade.
Dan
terbukti, sejak terbit pertama kali diterbitkan, respon
masyarakat khususnya kalangan arsitek, desain interior
dan pertamanan cukup positif. Majalah Asri kemudian
berkembang pesat sampai kota-kota besar di seluruh Indonesia.
Animo masyarakat akan informasi yang diluncurkan majalah
Asri pada akhirnya menjadi "Point of Interest"
baru bagi dunia mass media, sehingga banyak majalah,
dan koran menjadi aspek yang sama walaupun dalam porsi
yang kecil.
Beberapa
tahun kemudian, berkaca pada kesuksesan majalah Griya
Asri, maka bermunculanlah majalah-majalah sejenis Griya
Asri. Majalah-majalah tersebut juga mendapat sambutan
positif dari masyarakat. Meskipun begitu, majalah Griya
Asri tidak pernah merasa "terancam", sebab
majalah ini sudah menjadi trade mark dan referensi bagi
dunia arsitektur, interior serta pertamanan. "Dan
saat ini yang ditampilkan Asri juga menjadi informasi
melalui TV dan internet," tutur Ade dengan bersemangat.
Sesuai
dengan visinya, jelas Ade, majalah Griya Asri yang merupakan
pionir media arsitektur dan interior menampilkan informasi
tentang aspek apapun yang relevan dan layak untuk diketahui
masyarakat akan selalu diperlukan dan juga dicari. Pengetahuan
atau aspek yang kini menjadi content majalah Griya Asri
seperti asitektur, interior, taman/landscape, seni,
wisata dan aspek yang terkait di dalamnya juga merupakan
informasi dan pengetahuan yang diperlukan masyarakat
khususnya di Indonesia.
"Sudah
menjadi tugas majalah Griya Asri untuk menyajikan aspek
tersebut secara popular dan mudah untuk dicerna. Sebab
selain kita bidik segmen khusus, majalah ini juga ingin
merangkul pembaca umum yang tertarik pada informasi
di majalah Griya Asri," tandas Ade.
Untuk
mendukung hal tersebut, pihak pengelola majalah Griya
Asri menjalin kerjasama (kemitraan) dengan industri
dan jasa terkait. Berbagai produk dan jasa telah ikut
berpartisipasi dalam bentuk pemasangan iklan dan kerjasama
lain yang saling menguntungkan. "Dalam menjalankan
misi tersebut terdapat pula produk, produsen dan jasa
yang perlu diinformasikan perannya, yang pada akhirnya
menjadi bentuk kemitraan majalah Griya Asri," imbuh
Ade.
Segmented Market
Ketika ditanya mengenai pangsa pasar utama yang dibidik
majalah Griya Asri, Ade menjelaskan, sebagai majalah
dengan "content" yang khas, maka majalah Griya
Asri tergolong majalah khusus dengan pangsa pasar yang
juga segmented. Dengan begitu, majalah Griya Asri secara
sadar kemudian memposisikan diri pada segmen pembaca
yang memerlukan informasi seputar arsitektur, interior,
pertamanan dan lingkungan hidup.
"Mereka
itu bisa dari berbagai kalangan dan profesional, dikarenakan
cost of production (biaya produksi) Majalah Griya Asri
cukup tinggi dan informasi yang disampaikan merupakan
kebutuhan tersier, maka golongan yang kami tuju adalah
B ++ atau kalangan menengah ke atas (menengah atas+),"
kata Ade.
Ade
menambahkan, meski ini media segmented dengan pembaca
yang terbatas, namun pengelola media ini yakin informasi
yang disajikan majalah Griya Asri banyak perlukan orang.
Minat baca orang kan terus berkembang. Mereka tentunya
tidak hanya membutuhkan berita-berita politik saja,
namun informasi bersifat pengetahuan praktis, ringan
tapi menambah pengetahuan makin diburu orang.
Memasuki
tahun 1997, selama 13 tahun pasar Griya Asri mengalami
perkembangan sangat pesat. Pasca 1997, menurut Ade,
perkembangan pemasaran banyak berubah namun tetap berorientasi
pada segmentasi yang terbentuk di kota-kota besar Indonesia
khususnya Jabotabek dan pulau Jawa. Khusus di luar Jawa
permintaan berlangganan Griya Asri tiap bulannya meningkat
tajam. "Untuk Sumatera dan Sulawesi saja permintaan
berlangganan rata-rata meningkat hingga 60% per bulan,"
jelas Ade.
Saat
ini tiras Griya Asri efektif (terjual) 30.000 eksemplar.
Sementara harga jualnya majalah Griya Asri (100 halaman)/exp
adalah Rp. 25.000,-. Rata-rata iklan setiap terbit adalah
15 halaman. "Mudah-mudahan sesuai dengan rencana,
Asri dapat terus meningkat. Kami harap kondisi eksternal
juga dapat lebih mendukung, masyarakat lebih sejahtera
dan Tuhan memberkati usaha kita semua," ungkap
Ade optimis. Erl