Dalam
tempo sepuluh tahun terakhir ini feng shui telah menyebar
dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Pada umumnya
masyarakat menerima dengan baik, bahkan banyak di antara
mereka yang sebelum membeli atau menyewa produk properti
(realestat) menanyakan apakah feng shui dari produk tersebut
baik.
Persepsi
masyarakat selama ini kegunaan dan pemakaian feng shui
hanyalah untuk bangunan tunggal seperti rumah tinggal.
Pendapat ini tidak tepat, sebab ada kondisi di mana suatu
lingkungan tempat suatu bangunan berdiri tidak menunjang
kebaikan feng shui bangunan tersebut.
Jadi kalaupun feng shui sebuah bangunan tunggal baik,
maka tidak akan sempurna apabila kawasan dan lingkungan
di sekelilingnya tidak mendukung. Oleh karena itu sangat
penting bagi mereka yang berminat pada produk realestat
untuk juga mengetahui apakah feng shui lingkungan kawasan
itu juga baik.
Prinsip dan Aturan Feng Shui
Prinsip
dan aturan feng shui didasarkan kepada keselarasan dan
keseimbangan Yin-Yang atas Lima Elemen. Kedua, kondisi
Yin dan Yang, dituntut harus ada dalam suatu kawasan.
Yin menunjuk pada sifat-sifat pasif, tenang, feminin,
gelap, statis, dan diam. Adapun Yang menunjuk pada sifat-sifat
aktif, gerak, maskulin, terang, dan dinamis.
Keadaan seperti itu dapat dilihat pada sifat-sifat yang
dimiliki oleh lingkungan, baik alam maupun buatan. Elemen
ruang dan lansekap mampu menunjukkan karakter Yin dan
Yang. Memang diperlukan suatu kepekaan untuk dapat mengidentifikasi
sifat Yin dan Yang, dan seharusnya hal itu dapat diterangkan
sebagai gejala alam. Nah, keseimbangan sifat Yin dan Yang
ini, sangat diperlukan oleh suatu lingkungan real-estat
yang baik.
Lima elemen bumi sendiri adalah Air, Api, Kayu, Logam,
dan Tanah. Kelima elemen ini menunjukkan adanya hubungan
produktif dan pelemahan atau pengendalian. Siklus produktif
adalah Air memberi hidup pada Kayu, Kayu dapat menyalakan
Api, apa yang dibakar Api menjadi abu atau Tanah, di dalam
Tanah terdapat Logam, dan Logam akan mengkondensasi udara
menjadi Air.
Siklus pengendaliannya yaitu Air mematikan Api, Api melelehkan
Logam, Logam memotong Kayu, Kayu menginjak Tanah, dan
Tanah menyerap Air. Keselarasan antara elemen menjadi
pokok yang dapat dituju dalam menerapkan Feng Shui yang
baik. Elemen ruang dalam lingkungan realestat dapat dilihat
ciri-cirinya yang menunjukkan sifat-sifat elemen tersebut.
Pada prinsipnya hubungan yang serasi antara kelima elemen
ini akan mampu meningkatkan tenaga kosmis yang disebut
'Chi' dalam kawasan real-estat yang baik.
Penerapan
Yin-Yang
Lima Elemen
Prinsip
Yin-Yang memang kedengarannya sangat sederhana. Seorang
perencana tata letak (masterplan) akan mampu mengkombinasikan
antara kondisi alam yang ada dengan unsur-unsur rencana.
Yang dimaksud dengan unsur-unsur rencana adalah bangunan,
jalan beserta infrastrukturnya, dan vegetasi.
Bangunan
yang besar dan kecil, dinamis dan statis, kaku dan luwes,
solid dan transparan merupakan sifat-sifat Yin dan Yang
yang dapat dipadukan dalam lingkungan realestat. Demikian
pula halnya dengan bentuk jalan, lurus dan berkelok, sempit
dan lebar, naik dan turun, permukaan halus dan kasar,
merupakan sifat-sifat yang dapat dipadukan dan ditempatkan
secara asri dalam lingkungan realestat. Vegetasi yang
merupakan unsur tumbuh-tumbuhan dapat diterapkan dengan
menyusun dan mengkomposisikan tanaman yang kecil dan besar,
beranting kecil dan berbatang besar, berdaun kecil dan
lebar, berwarna lembut dan terang.
Perpaduan
dari unsur-unsur rencana dengan kuantitas dan kualitas
yang seimbang dan memadai merupakan keterpaduan unsur-unsur
yang diharapkan dalam Feng Shui. Tentu saja perencana
diharapkan mampu melihat prinsip Feng Shui ini dalam perspektifnya
masing-masing. Keselarasan lima elemen dalam lingkungan
bisa diciptakan dengan mengenali unsur-unsur rencana yang
bisa dikategorikan ke dalam lima elemen (Air, Api, Kayu,
Logam dan Tanah).
Kategorisasi sifat masing-masing unsur rencana didasarkan
pada dominasi unsur tersebut menurut elemen-elemen bumi
tadi. Sebagai contoh vegetasi yang lebat memperlihatkan
unsur Kayu, atap segitiga dengan genteng merah menunjukkan
sifat Api, tanah dan batuan menunjukkan sifat Tanah.
Warna juga dapat menunjukkan sifat elemen, seperti Kayu
berwarna hijau dan biru muda, Api adalah warna kemerahan
dan oranye, Logam warna putih dan kuning emas, Air warna
hitam dan biru tua, sedangkan Tanah berwarna kuning, coklat
dan krem.
Dalam
kaitannya dengan arah kompas, maka setiap elemen juga
memiliki arahnya masing-masing. Air adalah posisi Utara,
Kayu pada sudut Timur dan Tenggara, Api di sektor Selatan,
Logam menempati kedudukan Barat dan Barat Laut, Tanah
berada di posisi sentral, tengah serta Timur Laut dan
Barat Daya. Penerapan arah kompas ini dalam suatu lingkungan
realestat yaitu dengan membagi kegiatan-kegiatan yang
biasanya dikenal dengan zona kegiatan sesuai dengan sifat
elemen.
Sebagai
contoh, sarana bermain anak-anak dan tempat olah raga
adalah elemen Api. Pertokoan dan daerah bisnis yang mendatangkan
kemakmuran disimbolkan dengan Air. Area perumahan merupakan
tempat istirahat para penghuninya, disimbolkan dengan
unsur Tanah. Unsur Logam terkait dengan kegiatan yang
bersifat spiritual. Demikian, maka perencana akan dengan
cepat menempatkan kegiatan-kegiatan tersebut sesuai dengan
sifat-sifat berdasarkan simbol elemen buminya.
Contoh
penerapannya seperti ini. Elemen Air secara harafiah adalah
air itu sendiri dan unsur alam maupun buatan yang bentuknya
berombak. Karena posisi Air diwakili oleh posisi Utara
maka sebaiknya unsur ini ditempatkan di arah itu. Tetapi
karena unsur Air ini juga serasi dengan unsur Kayu yang
dihasilkannya serta unsur Logam yang menghasilkannya,
maka tentu saja posisi Air juga dapat ditempatkan pada
sektor tersebut.
Dalam
Feng Shui maka posisi Air ini kurang tepat diletakkan
di daerah Selatan yang dikuasai oleh Api. Apabila perencana
dengan terpaksa ingin menempatkan unsur rencana yang bersifat
Air di posisi Selatan, maka ada baiknya untuk menambahkan
satu unsur lain sehingga keseimbangannya lebih terkendali.
Satu
hal yang penting juga dipertimbangkan ialah bahwa kreatifitas
dalam menciptakan lingkungan yang indah harus terjaga
dan ditingkatkan. Dan, keseimbangan Yin-Yang lima elemen
dalam lingkungan menjadi paradigma yang senantiasa perlu
diingat bagi perencana kawasan realestat pada saat membuat
rencananya.
(29
- Nov - 2001)